“Membongkar Visi dan Misi Sang Kandidat”
Bincang-Bincang | Gurindam12.co- Rapat Besar Anggota [RASA] adalah agenda rutin dua tahun sekali yang diselenggarakan Jaringan Kerja Penyelamat Hutan Riau [JIKALAHARI] dalam rangka pemilihan Koordinator. Walau hal tersebut masih terbilang cukup lama yaitu tepatnya pada tanggal 17 Maret 2011 nanti, tetapi yang di sebut Jelang Rasa sudah mulai terasa.
Jelang Rasa adalah sebelum waktu pemilihan tiba, dimana durasi hari yang masih ada tersebut maka dibentuklah badan pelaksana yaitu Stering Commite (SC). Dimana SC tersebut bertanggung jawab dan sebagai sentral terlaksananya ritual RASA tersebut. SC adalah Panitia pengarah persiapan RASA. Dimana tugas-tugas tersebut meliputi, penyiapan draft, tata tertib, agenda, mekanisme pemilihan serta draft konsep jikalahari kedepan. SC di ketuai oleh Ali Husin Nst, dengan beranggotakan Riko Kurniawa [Perkumpulan Elang], Emi Andriati [Perkumpulan Alam Sumatra], Susanto Kurniawan [Jikalahari] dan Nasir [Mapala Phylomina].
Debat Kandidat ?Membongkar Visi dan Misi Sang Kandidat Calon Pemimpin Jikalahari”
Pada tanggal 09 Maret 2011 pukul 14.30 dilaksanakan Debat kandidat dengan tema ?Membongkar Visi dan MISI Sang Kandidat?. Gurindam12.com berandil besar dalam terlaksananya debat kandidat tersebut secara teknis maupun non-teknis. Priyo Anggoro selaku pembawa acara adalah gawang hidupnya diskusi, sedangkan Riko Kurniawan dan Rusmadya adalah tokoh kunci dalam membongkar Visi dan Misi sang kandidat yang saat itu hadir dan mempunya mimpi jikalahari kedepan adalah Zainuri Hasyim, Bambang Aswandi, Ali Afriandi dan Fadil Nandila.
Perdebatan begitu sengit, antara perbedaan konsep jikalahari kedepan hingga membongkar permasalahan saat ini serta tawaran solusinya. Riko Kurniawan yang mengusung isu mengenai konsep penyelamatan hutan yang tersisa dengan berbagai konsep mempertanyakan kepada sang kandidat. Sedangkan Rusmadya mengusung tema tentang pembenahan internal JIKALAHARI kedapan. Perdebatan ini saling lempar bola panas antar kandidat.
Namun dari semua perdebatan tersebut berujung pada sebuah kesepakatan kedepan yaitu menuju JIKALAHARI untuk selalu menjadi yang terbaik dalam proses pengambilan posisi dan langkah dalam penyelamatan hutan alam yang tersisa.

