Tasik Besar Serkap, Ini Perjalanan Berat (bag I)
Pangkalan Kerinci | Gurindam12.co- Tepat pukul 08.00 WIB Rabu 06 maret 2013 tim yang terdiri dari crew Gurindam12.co dan Yayasan Mitra Insani berencana melakukan perjalanan menuju Sungai Serkap. Dengan tujuan melihat dan mendokumentasikan nelayan yang ada disana dan produk ikan salai sebagai hasil olahannya.Malang tak dapat ditolak, kami terpaksa menunda perjalanan sekitan satu jam kemudian. Karena pompong yang rencananya kami gunakan terlalu kecil dan tidak sebanding dengan muatan yang ada. Akhirnya Maizaldi berinisiatif mengganti pompong untuk menuju muara sungai serkap. Sedangkan untuk melanjutkan hingga Tasik Besar Serkap tetap menggunakan pompong kecil tersebut.
Keberangkatan tim ini kemudian akan disusul oleh Tim dari Kementrian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP) pada hari selasa dengan tujuan identifikasi ikan merah. Ikan merah tersebut saat ini dinilai adalah spesies baru ikan air tawar. Selain bentuknya yang unik, ikan merah ini juga mempunyai tingkah yang unik. Yaitu akan muncul pada sore hari saja, dengan rentang antara pukul 17.00 hingg 18.30an.(untuk cerita ikan merah, akan kami ulas pada tulisan berikutnya).
Tasik Besar Serkap Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan, hanya dapat ditempuh melalui jalur air dengan memakai pompong bertenaga mesin diesel. Perjalanan air dimulai dariKelurahan Teluk Meranti dengan menyusuri Sungai Kampar..
Namun ditengah perjalan kami, bahwa Sungai Serkap memiliki mitos kepada pendatang untuk berkokok dimuara sungai Serkap, Untuk menghindari Penyakit Demam dan hujan yang sangat deras ketika diperjalanan.
Perjalanan dilanjutkan melalui sungai Serkap yang menjadi jalur utama, dikarenakan Tasik Besar berada pada Hulu Sungai Serkap. Perjalanan dimulai, Petualangan pun dimulai, seperti pedoman pemadam kebakaran. Pantang pulang sebelum Padam.
Perjalanan dilanjutkan, disepanjang jalan, kita hanya dapat melihat pepohonan disisi kanan dan kiri, dan air berwarna merah pekat dikarenakan daerah tersebut adalah kawasan gambut, sehingga sangat sulit untuk melihat dasar sungai serkap. Tantangan lainnya adalah pompong dengan lebar 1,5 meter dengan panjang 6 meter memiliki kelebihan muatan sehingga jarak 15 cm antara air dan sisa terapunya pompong penumpang tidak boleh banyak bergerak, atau bisa dikatakan zero mistake
Disepanjang jalan kita akan melewati beberapa bagan atau rumah nelayan yang terbuat dari kayu dan beratap rumbia yang berada tepian aliran sungai Serkap, dan berbagai macam alat tangkap ikan milik nelayan. Tim menempuh perjalanan selama tiga hari dua malam melawati rintangan bakung dan rasau yang memenuhi aliran sungai. Padahal menurut normalnya perjalanan hanya membutuhkan waktu tempu satu hari satu malam. Pemandangan yang sangat mempesona setiap mata yang melihatnya. Namun beberapa saat kedua mata kita juga disuguhi beberapa tempat yang mengalami bentuk fisik alam yang cukup aneh, yaitu robohnya daun bakung secara rapi dan teratur menjadikan daerah tersebut seperti lapangan kecil. Pada saat itu Pak Bahtiar yang mengemudikan pompong berkata dengan berbisik.”Itu tempat buaya berjemur Rizqi, disinikan banyak buayanya, jadi jangan macam - macam kamu disini”. (RF)

