Tasik Besar Serkap, Ini Perjalanan Berat ( bag II )
Pangkalan Kerinci | Gurindam12.co-Senin 04 Maret - 2013 Pukul 16:00 WIB, tim sampai di Tasik Tengah sungai Serkap, yang menjadi satu tempat dengan kuantitas Buaya terbanyak, hal ini terlihat dari jumlah lokasi bakung yang tertidur dikarenakan reptil ini menjadikannya sebagai tempat berjemur.
Aktifitas masyarakat bernelayan berlangsung sejak dahulu, teknik yang digunakan nelayan untuk mendapatkan ikan ialah dengan menggunakan perangkap ikan tradisional satu diantaranya adalah Pengilar. Pengilar diletakkan tepian arus air, agar saat ikan menyongsong arus langsung masuk pada pintu pengilar.
Diantara banyaknya ikan yang ada di sungai Serkap bila pada musimnya nelayan harus waspada terhadap Predator yang berada di sungai serkap, seperti Musang air?(Cynogale bennettii)?dan buaya yang memakan hasil tangkapan, bila terlambat mengambil hasil tangkapan. Ada saat yang tidak terduga kemudian buaya terlihat oleh para nelayan, tetapi seolah-olah nelayan disana menganggap hal itu biasa dan tidak begitu berbahaya.
Sore menjelang, tim disambut hangat oleh pak Mainun di Pondok kayu atau Bagan miliknya, yang sudah lapuk dan keropos digerus usia.?Selain Mainun, tim juga disambut hangat oleh menantu bapak Mainun yang tinggal berdampingan yaitu Fahmi yang berasal dari Kalimantan Barat. Tim beristirahat serta mencari informasi tentang perkembangan Nelayan Ikan Salai Sungai Serkap, dan juga tim mengambil beberapa Sceane Audio Visual aktifitas nelayan.
Waktu telah menunjukkan pukul 19:00 WiB, tim beserta nelayan mengadakan santap malam bersama berhidang Gulai ikan Toman, dan ikan Lang sungai serkap, dan melanjutkan pencarian informasi dengan berdiskusi. Malam telah larut, langit gelap dihiasi sungai bintang Milky Way waktu telah menunjukkan pukul 23:30 wib menandakan saatnya untuk menutup mata dan mengakhiri aktifitas.
Selasa 05 - Maret - 2013 pukul 06:00 WIB, tim kembali melanjutkan aktifitas masing-masing menurut tanggung jawabnya. Pada pukul 10:30 WIB tim bersiap melanjutkan perjalanan menuju Tasik Besar, sama dengan hari sebelum tim tetap bertemu dengan bakung, Rasau, dan beberapa pondok nelayan dengan aktifitasnya.
Setelah tiga setengah jam perjalanan, Pada pukul 14:00 WiB tim berhenti untuk beristirahat, sekaligus menyantap makan siang. “ini adalah pondok terakhir yang dipinggiran sungai serkap, tidak ada pondok lagi pondok selain pondok pak Sukiman di tasik besar” kata pak Tiar, juru kemudi pompong.
Setelah satu jam beristirahat Perjalanan dilanjutkan, sesekali tim berhenti ditengah aliran sungai guna beristirahat dan bersenda gurau untuk membangkitkan semangat para tim. Kondisi Rasau dan bakung semakin parah, kondisi aliran hampir tertutup oleh bakung dan rasau, bahkan pompong tim yang memiliki lebar 1,5 meter sangat sulit melewatinya. Aliran sungai hanya memiliki lebar 1,2 hingga 1,4 meter saja. Kondisi mesin diesel pompong tidak dapat hidup dikarenakan baling-baling terhambat oleh sampah bakung, sehingga hanya menggunakan tenaga manual yaitu dorongan dari kayu penolak dan menggunakan tangan dengan cara menarik bakung.
Ketika perjalanan dilanjutkan dan Waktu telah menunjukkan pukul 24:00 WiB dini hari, tim dihadang oleh batang pohon yang tumbang melintangi perjalanan. Sehingga satu diantara tim adalah Nanang Sujana memotong pohon tumbang dengan memggunakan golok agar dapat meneruskan perjalanan.
Pada saat itu bakung yang memiliki tinggi sekitar 1 hingga 1,5 meter,dari permukaan air, dan hanya bintang dilangit yang menerangi perjalan, serta beberapa senter kecil. Tim lupa membawa lampu badai pada saat itu, namun tim berhasil menebang pohon yang melintang jalur pompong kami. Satu-persatu tim melewati tumbangan kayu yang tidak sepenuhnya terpotong.
Setelah tim berhasil melewati kayu, beberapa menit kemudian tim menyepakati untuk beristirahat. Namun salah satu Tim yaitu Maizaldy menepis kesepakatan tersebut. “Bagusnya kita terus saja dulu bang, karena ditempat tadi awak tu melihat buaya didekat pohon tumbang tadi, mangkanya awak tu liat kebelakang terus biar tau dimana buaya itu, mengikuti kita atau tidak bang”. (RF)
