Tasik Besar Serkap, Ini Perjalanan Berat ( bag III )
Pangkalan Kerinci | Gurindam12.co-Rabu 06 - Maret - 2013 pukul 00:30 WIB. terdengar Sautan dari crew lain bernama Rizqi “wah betul bang, bagus kita trus saja bang, kalau bisa kita lanjut saja sampai pagi bang, karena disebelah kanan tadi, ada tempat buaya berjemur bang” ( pendirian Rizqi berubah seketika ketika mendengar informasi yang disampaikan Maizaldi ). Informasi itu menandakan tim berada dalam Radius jangkauan buaya.
Tim kembali melanjutkan perjalanan guna memilih tempat yang lebih aman untuk beristirahat, dan tim memutuskan berhenti untuk beristirahat dan mempersiapkan makan malam pada pukul 00:45 WIB. “Masak apa kita”(Rizqi) “Yang instan saja biar cepat” (Nanang sanjaya), “kita punya ikan sarden, mie instan, sama telur” saut (Rizqi). “Ikan sarden jhalah yang gampang, nasi kita kan masih ada sisia tadi siang” (Shodik Purnomo), “mantap tuh ikan sarden” (pak Tiar), “bg jangan ikan sarden yah, nantik takut memancing Buaya pula bg, bagus mie jha bg” bantahan menu masakan malam oleh Mayzaldi.
Dengan serempak semua crew menyetujui usulan Maizaldi, dan melupakan kenikmatan Ikan sarden Instan yang tergantikan oleh Mie Rebus Instan. Tim menyantap dengan lahap menu sepesial Sungai Serkap dini hari, dan bersegera melanjutkan perjalanan. Setelah menemukan tempat yang cukup aman untuk beristirahat. Tim terpaksa menginap di dipinggir aliran sungai Beralaskan pompong beratapkan langit berbintang, daerah ini tergolong daerah Rawa Gambut yang tentunya memiliki koleksi binatang yang cukup banyak, baik unggas maupun Reptil.
Hal ini lah yang membuat Tim disambut hangat oleh baik oleh bermacam unggas seperti Rangkong, Murai daun, murai batu, Kalong, dan gagak. Selain unggas , beberapa hewan liar seperti ular, biawak, dan buaya tidak ingin ketinggalan menyambut tamu istimewa ini. sehingga perjalanan Berat Tasik Besar yang berada di Hulu Sungai Serkap, menjadi sangat seru dan menegangakan.
Rautan ekspresi masing - masing crew sepertinya 50:50, antara keinginan untuk tidur beristirahat dengan resiko malam, atau melanjutkan perjalanan. Namun keletihan tim tidak dapat tertahankan, mungkin hanya Doa yang terucap didalam hati masing - masing crew. “semoga aman tidak ada gangguan apapun hingga mentari datang kembali”. Perahu pompong dipaksa naik diatas Rawa, garam ditabur sekeliling pompong, lampu obor terbuat dari sumbu dan kaleng disiagakan sepanjang malam bersama obat nyamuk bakar. Nanang Sujana pada Haluan kapal, Shodik Purnomo sisi kiri kapal beralaskan papan selebar 20 cm, Rizqi, Pak Tiar, dan maizaldi tersusun layaknya ikan sarden dengan luas lebar 1,5 meter dan panjang 2 meter di badan kapal.
Dengan kata Bismillahhirrohmanirohim yang terucap dalam hati, maka mata pun tertutup, apakah akan terbuka kembali atau tidak adalah sebuah takdir.Namun takdir masih berestu baik terhadap tim 1, Ketika membuka mata dan melihat mentari adalah sebuah kebahagian tersendiri dengan kondisi serta jumlah crew yang masih utuh. Setelah itu Tim kembali bersegera meneruskan perjalanan pada pukul 07:00 WIB, dengan sarapan the manis berdamping Roti. Disepanjang perjalanan Sering sekali terdengar sautan dari salah satu crew Nanang Sujana, “ayo dorong yang kuat, mana tenaganya”,dan beberapa aba - aba “awas kepalanya” dikarenakan kayu yang melintang diatas aliran sungai, dan banyak terdengar kata “Aw” suara teriakan ini adalah effek samping dari sentuhan salam dari duri pohon Rasau yang berada disepanjang sungai selain bakung.
Tim harus mendorong perahu dengan kayu, dikarenakan mesin dongfeng tidak dapat bekerja dengan baik, dikarenakan sampah yang sering sekali menyangkut pada baling - baling perahu. Dan sesekali terdengar kata salah satu crew Shodik Purnomo, “engkol pak?, La lapang didepan ko pak (kita hidupkan mesinnnya lagi pak, didepan sepertinya sudah sedikit longgar bakungnya pak)” sautan jawaban juru kemudi berharap setuju “Alun lai di depan sempit lagi tuh ( belum lagi nanti didepan sempit lagi tuh)” atau “aa iyolah awak engkol , tapi barasihkan dulu sampah dibaling - balingnya (iyalah kita hidupkan mesinnya , tapi kita bersihkan dulu sampah dibaling - baling perahunya)”.

