Kearifan Lokal Menyelamatkan Desa
“Pernah saya jadi bang Toyib, satu bulan ndak pulang pulang”, kalimat ini keluar dari mulut Herman, pria berumur 44 tahun ini dengan bersemangat menceritakan kepada saya. Kopi panas gelas kedua yang dipesannya pun datang, “Dari tahun 2009 sampai 2012, babak belur kami membangun kesadaran pada masyarakat” kata Herman, “Bayangkan saja, saya bersama teman-teman masuk ke kebun- kebun masyarakat. Kami berdialog dengan mandor-mandor kebun, berdialog kepada pemilik kebun HTI mengenai bahaya potensi kebakaran hutan di lahan mereka. Apa yang saya dapatkan. Penolakan” ujarnya. “Ujung ujungnya, saat musim kemarau api, kami selalu lintang pukang memadamkan api di desa kami “sambung Herman. Herman adalah ketua dari Masyarakat Peduli Api/MPA Desa Sepahat, Kecamatan Bukit Batu, Kabupaten Bengkalis.
Desa Sepahat adalah sebuah desa yang berada di Kabupaten Bengkalis. Desa yang terletak di pinggir jalan lintas Dumai- Sungai secara topografi berada diatas lahan gambut. Desa ini memiliki luas dua puluh lima ribu Ha. Lahan lahan gambut yang berada di desa ini mengalami degradasi lingkungan. Kanal kanal yang di bangun pada pinggir kebun karet dan sawit menyebabkan air gambut yang ada di dalam tanah mengalir keluar. Akibatnya, pada saat musim kemarau, lahan lahan gambut ini menjadi kering sehingga kebakaran hutan dan lahan dengan mudahnya terjadi di Sepahat. Selain itu, kebiasaan buruk masyarakat yang membuka lahan dengan membakar lahan menyebabkan kebakaran adalah sahabat dari desa.
Menyadari potensi kebakaran hutan dan lahan di Sepahat besar, pada awal tahun 2000 dibentuklah regu pemadam oleh Gubernur Riau. Regu Pemadam ini memiliki tugas mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang sering terjadi di Sepahat. Namun, setelah dibentuk, regu pemadam mengalami mati suri. Alasan mati suri adalah tidak adanya dana bantuan dari pemerintah Kabupaten maupun pemerintah Provinsi. Dana ini vital, karena saat terjadinya kebakaran, regu pemadam membutuhkan biaya logistik seperti membeli bensin untuk mesin pemadam. “Kami pernah hutang sebesar lima juta rupiah di kedai bensin” ujar Herman. “ Kami-kami juga yang iuran untuk membayar bensin” sambungnya. Mati surinya regu pemadam berlangsung hingga tahun 2009. Pada tahun 2009 ini, pemerintah desa Sepahat membentuk Masyarakat Peduli Api/ MPA. Lima belas orang pemuda desa termasuk Herman direkrut oleh pemerintah desa untuk bergabung. Untuk melegalkan kegiatan ini,Pemerintah Desa Sepahat membentuk Peraturan Pemerintah Desa/ Perdes, tujuannya adalah agar pemerintah desa bisa menggunakan dana yang ada di desa untuk biaya kegiatan dari MPA.
Masyarakat Peduli Api/MPA adalah masyarakat yang secara sukarela peduli terhadap pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Mereka telah dilatih untuk membantu didalam kegiatan pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Selain berperan dalam pemadaman api, MPA juga bisa berperan dalam memberikan pencegahan, seperti memberikan sosialisasi mengenai bahaya api dalam membuka lahan. Setelah MPA disahkan dan dibentuk, banyak cerita mengenai perjuangan mereka dalam menyelamatkan desa. Herman menceritakan kepada saya, “ Pernah terjadinya kebakaran hutan di desa Sepahat, saat itu adalah musim angin Selatan. Pada saat kami memadamkan api, angin berbalik, hingga terbentuk pusaran api. Saya langsung terjun ke parit yang ada. Terlambat sedikit, saya sudah nggak ada” . Desa Sepahat berbatasan langsung di sebelah utara dengan pulau Bengkalis dan Pulau Rupat. Sehingga, pada saat musim angin Selatan yang berhembus dari Asia, kedua pulau ini menjadi gerbang angin. Akibatnya, jika terjadi kebakaran hutan dan lahan, api yang ada bisa menjadi besar. “Wilayah kami adalah ring satu dalam kebakaran lahan “ ujar Herman.
Selain memadamkan api, perjuangan MPA desa Sepahat adalah perjuangan dalam membangun kesadaran dan kepedulian bagi warga kampung untuk tidak membakar lahan. Saat musim kemarau, MPA akan berpatroli keliling kampung untuk mengingatkan warganya akan bahaya nya api. Namun, yang mereka hadapi adalah penolakan dari masyarakat. “ Miko kenapo urus kebun kami, biarlah kami yang urus sorang” kalimat kalimat untuk tidak ikut campur dalam kebun urusan kebun mereka sering didapatkan oleh anggota MPA pada saat patroli, hal ini diakui oleh Abu Bakar, ketua regu dari MPA desa Sepahat ini ikut bergabung bersama saya dan Herman pada saat obrolan seru ini berlangsung. “ Ntah hape lah MPA ni, patroli terus” kalimat ini yang sering dia dapatkan. Butuh perjuangan sekitar 3 tahun bagi MPA Sepahat untuk membangun kepercayaan dari masyarakat desa. Di mulai dari tahun 2009 sampai 2012.
Setelah melihat tekad dan keberhasilan MPA Sepahat dalam memadamkan api serta sosialisasi bahaya kebakaran hutan, MPA Sepahat mulai mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Bantuan ini seperti dari Lembaga Pro Lingkungan berupa mesin pemadam api dan berbagai macam perlengkapan pemadaman seperti nozel, bantuan anggaran dari pemerintah Kabupaten Bengkalis, sebesar Rp 275.000 per orang per bulan selama delapan bulan, uang ronda dari Badan Lingkungan Hidup sebesar Rp 2.000.000 selama empat bulan, dan bantuan dana tetap dari pemerintah Desa Sepahat sebesar enam puluh juta rupiah.
Berkat patroli rutin dan sosialisasi yang di lakukan oleh MPA, pada tahun 2013 sampai 2014 kebakaran hutan dan lahan sudah tidak ada lagi di desa ini. Masyarakat Desa Sepahat sudah mengerti akan bahaya api. Namun, perjuangan MPA desa Sepahat belum berakhir, sekarang ikut membantu pemadaman api di desa desa tetangga mereka seperti Tanjung Leban, Bukit Lengkung dan Api api. Keberhasilan MPA desa Sepahat ini memberikan rasa bangga sebegai anggota, seperti yang di katakan oleh Abu Bakar dengan mata yang berbinar. “Saya bangga sebagai MPA, kerena saya bisa membantu menjaga desa dari bahaya kebakaran lahan “














