Jalan Sunyi Museum Sang Nila Utama
” isi daftar tamu nya bang, lalu bayar seiklasnya sebagai uang kebersihan” penjaga berjilbab coklat dengan ramah menyuruh saya untuk mengisi buku tamu yang ada didepan, Suasana kondisi di dalam bangunan sepi, setelah sebelumnya penuh dengan rombongan anak Taman Kanak Kanak. Hanya saya dan mereka yang datang pagi ini.
Bangunan ini megah, terdiri dari dua lantai. Berdiri di sebelah kanan dari Taman Budaya Pekanbaru. Nama dari bangunan ini adalah museum Sang Nila Utama, berdiri sejak tahun 1994, bangunan ini berfungsi sebagai tempat untuk memamerkan koleksi-koleksi dari kebudayaan melayu Riau.
Di lantai dasar bangunan yang terdiri dari tiga lorong, di lorong pertama, saya bisa melihat koleksi dari mainan mainan tradisional yang ada di Riau. Mainan seperti engrang, congklak, dan gasing yang dahulu merupakan permainan yang jamak kita temukan di kampung kampung melayu sekarang sudah mulai dilupakan, mainan mainan tradisional ini mengisi etalase kusam pada koridor di lantai satu. Di belakang etalase mainan-mainan tradisional ini, di dekat tangga turun menuju ke lantai satu, terdapat rumah rumahan yang dicat coklat. Rumah rumahan ini berisikan koleksi alat alat dapur yang biasa nya digunakan oleh masyarakat melayu. Keranjang tempat beras, dan tempayan adalah beberapa koleksi dari rumah rumahan ini.
Lorong kedua yang berada di kanan dari rumah rumahan melayu, terdapat koleksi berupa batik Riau. Kain batik ini berdampingan dengan koleksi dari tenun Siak yang juga di letakkan pada etalase kaca. Warna warni mencolok dari kain batik dan kain songket ini memancing mata saya untuk melihat lebih lama. Namun, berbeda dengan museum yang ada di Pulau jawa, tidak terdapat petugas yang mau menemani saya untuk menjelaskan apa saja makna di balik batik dan kain ini. Petunjuk yang dibuat oleh pihak museum hanyalah secarik kertas kusam yang sudah tidak jelas lagi terbaca. Di belakang koleksi kain, terdapat etalase kaca tempat dimana koleksi topeng mak yong berada. Makyong adalah seni teater khas Melayu yang sudah diakui oleh UNESCO. Seni teater tradisional ini sampai sekarang masih digemari dan sering dipertunjukkan sebagai dramatari dalam forum internasional. Di zaman dulu, pertunjukan mak yong diadakan orang desa di pematang sawah selesai panen padi, Di kepulauan Riau, mak yong dibawakan penari yang memakai topeng, Tokoh utama pria dan wanita keduanya dibawakan oleh penari wanita. Tokoh-tokoh lain yang muncul dalam cerita misalnya pelawak, dewa, jin, pegawai istana, dan binatang. Pertunjukan mak yong diiringi alat musik seperti rebab dan gendang. Sayangnya di museum ini, topeng topeng ini terlihat kusam.
Lorong bagian tengah, yang berada satu garis lurus dengan rumah rumahan berwarna coklat. Terdapat etalase yang menyimpan alat alat musik di Melayu Riau. Nafiri, alat musik tiup yang terbuat dari kayu, akordeon yang merupakan alat musik mirip organ namun dengan sistem tekanan tangan, serta biola tua yang di gantung pada sebuah dinding berwarna kuning adalah beberapa alay musik yang bisa saya lihat di lorong ini. Selain itu tidak jauh dari etalase alat alat musik, terdapat replika dari candi Muara Takus. Candi yang berada di Kabupaten Kampar ini adalah merupakan bukti bahwa agama Budha pernah berkembang dan berjaya di Propinsi ini, dan juga sebagai bukti bahwa kerajaan Sriwijaya pernah ada di Riau.
Sejajar dengan lorong tempat kain batik dan songket melayu berada, terdapat replika dari hewan hewan yang ada di Riau. Dua ekor harimau Sumatera yang berada didalam etalase kaca, menarik perhatian. Sempat terpikirkan oleh saya, apakah nasib harimau Sumatera akan berakhir seperti replika ini, berada di museum.
Suasana di lantai dua juga tidak kalah menariknya, disini saya bisa melihat koleksi keramik keramik dari Cina. Keramik keramik ini diletakkan pada beberapa etalase kaca. Beberapa keramik ini berasal dari kerajaan yang pernah ada di Riau seperti kerajaan Siak dan kerajaan Indragiri. Selain koleksi keramik, terdapat juga koleksi mata uang yang digunakan pada saat pemerintahan orde lama. Uang ini bernama uang rupiah khusus Kepulauan Riau, penerbitan uang ini karena daerah daerah kepulauan Riau masih menggunakan Dollar Malaya sebagai alat transaksi, sehingga untuk mencegah peredaran uang dollar Malaya digunakan sebagai alat tukar pada saat itu, pemerintah Sukarno menerbitkat mata uang khusus. Dampak dari penerbitan mata uang ini adalah perdagangan di kepulauan Riau, seperti Lingga, Tanjung Pinang,Karimun dan Pulau Tujuh mengalami mati suri karena mereka harus menggunakan mata uang republik.
Selain uang dan keramik, saya bisa melihat senjata senjata tua seperti pedang dan pistol flint lock yang dahulu digunakan pada zaman kerajaa di Riau. Menarik. Penutup dari kunjungan ke lantai dua ini adalah koridor yang dipersiapkan khusus oleh perusahaan minyak yang beroperasi di Riau. Chevron, di sini, saya bisa melihat replika dari minyak bumi, replika dari reservoir, bentuk dari mata bor, replika dari pompa minyak dan replika dari mobilisasi alat pada saat pengeboran. Koridor ini menjelaskan mengenai apa dan kemana minyak dari perut Riau ini pergi.
Meskipun koleksi dari museum Sang Nila Utama dapat dikatakan menarik. Namun, perlu ada perbaikan dari pihak museum terutama dalam menyusun koleksi dari Museum agar para pengunjung museum ini ramai. Sangat disayangkan dengan bangunan yang megah, namun pengunjung dari museum ini dapat dihitung dengan jari.









