Candi yang terlupakan di Tanah Sumatera
Kampar,Gurindam12.com-Objek wisata yang berjarak sekitar 138 km dari Pekanbaru atau sekitar dua jam setengah dengan menggunakan kendaraan bermotor adalah objek wisata yang menarik. Sayangnya obek wisata ini seperti tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah terutama dinas yang terkait.
Sebelum kita masuk kedalam objek wisata ini, ada sebuah kisah yang menjadi asumsi dari para ahli akan keberadaan tempat ini. Alkisah ada seorang pengelana dari China yang bernama I Tsing . Dia adalah seorang pendeta Budha yang melakukan perjalanan dari Cina ke India untuk mempelajari agama Budha. Ia mencatat perjalanan ini dalam bentuk sebuah jurnal. Di dalam salah satu catatan perjalanannya, Ia sempat singgah di sebuah kerajaan yang dia sebut dengan Shihlifoshih. Ia menuliskan bahwa negara tersebut dikelilingi oleh tembok yang luas. Dan terdapat sekitar 1000 Bikhu yang belajar agama Budha di sini. I Tsing menggambarkan letak dari negara ini di dalam catatan perjalanannya, Negara ini terletak di titik dimana bayang-bayang welacakra/jam matahari tidak menjadi panjang atau menjadi pendek pada pertengahan bulan delapan.
Menurut para ahli sejarah dan antropologi perjalanan yang di lakukan I Tsing pada tahun 671 Masehi itu menunjukkan keberadaan kerajaan Sriwijaya. Namun, ibu kota dari kerajaan ini masih menjadi tanda tanya. Apakah berada di Muara Jambi, Palembang, atau di Muara Takus provinsi Riau. Saat ini saya sedang berada di salah satu tempat yang diasumsikan sebagai ibu kota dari kerajaan besar ini.
Saya di Muara Takus. Muara Takus adalah nama sebuah desa di kecamatan XIII Koto Kampar, Provinsi Riau. Disini terdapat sebuah candi yang menurut beberapa ahli merupakan peninggalan dari kerajaan Sriwijaya. Candi tersebut bernama sama dengan kampung ini, Candi Muara Takus namanya.
Pada awal nya, candi ini ditemukan oleh orang Belanda yang bernama W.P Groeneveld pada tahun 1800. Dia melakukan ekspedisi di Sumatera Tengah. Kemudian, ekspedisi dari Groeneveld dilanjutkan oleh duet Belanda yang bernama Verbeek dan Van Delden. Di dalam perjalanan ekpedisinya, Verbeek dan Van Delden membuka jalan dari Payakumbuh Sumatera Barat hingga ke Muara Takus. Didalam ekspedisi yang dilakukan oleh Verbeek dan Van Delden, mereka menemukan bangunan purbakala, bangunan ini adalah biara dan beberapa candi. Pada tahun 1881 Verbeek dan Van Delden menulis pendapatnya tentang keberadaan candi Muara Takus dengan judul “De Hindoe Ruinen bij Moeara Takoes ann de Kampar Rivier”. Selanjut nya ekspedisi ini berlanjut pada tahun 1889 oleh J. W. Yzerman, ekspedisi ini untuk mengukur dan membuat sketsa mengenai candi ini. Ekspedisi yang dilakukan oleh Belanda ini sempat berhenti. Dan dilanjutkan kembali pada tahun 1937. Saat seorang insinyur dari Belanda yang bernama Ir J.L Moens melanjutkan penelitian ini. Hasil dari penelitian J.L.Moens berpendapat bahwa Muara Takus adalah pusat dari kerajaan Sriwijaya. Dia mengambil asumsi berdasarkan tulisan I tsing yang menjelaskan posisi dari daerah ini yang terletak di dekat garis khatulistiwa/ garis 0 derajat.
“ Komplek candi ini sebenar nya enam bang, tapi yang baru terlihat baru empat ini lah. Konon kabar nya,dua lagi itu tertimbun bang” hal ini yang menjadi pembukaan pembicaraan saat saya berada di dalam kompleks candi. Saya di temani oleh Zulkifli. Dia adalah penjaga yang di tugaskan oleh dinas pariwisata untuk menjaga tempat ini. Saya hanya melihat empat candi yang di bangun saling berdampingan. Ada yang berukuran besar, dan ada yang berukuran kecil. Mari kita mulai dari candi yang berada dekat dari pintu masuk. Candi besar yang di susun dengan batu-batu yang terbuat dari tanah berwarna merah ini bernama Candi Tua. Candi ini terdiri dari tiga tingkat. Bagian kaki, badan dan atap Bata-bata yang ada di bangunan ini di susun simetris. Pada bagian tengah candi ini terdapat tangga yang terbuat dari batu. Tangga ini menghubungkan bagian kaki,badan dan atap. Saat Waisak, Umat Budha yang berasal dari Riau, Malaysia, Thailand bahkan Tibet merayakan hari suci tersebut di sini. Menurut Zulkifli, Waisak yang di adakan di Muara Takus adalah perayaan yang terbesar di Sumatera namun sayangnya minim publikasi, Di depan candi tua ini, penganut agama Budha akan mendirikan tenda di depan candi. Tujuan pendirian tenda sama seperti di Candi Mendut, tenda ini berfungsi sebagai tempat berkumpulnya umat sebelum mereka melakukan ritual-ritual keagamaan seperti semedi dan pradaksina (ritual mengelilingi objek yang di anggap suci ke arah kanan, dengan sisi kanan tubuh menghadap obyek penghormatan).
Di sebelah candi tua, berdiri candi kokoh yang bernama Candi Bungsu. Candi ini berukuran lebih kecil dari candi Tua. Ukuran pondasi candi 13,2 x 16,2 meter. Pada penelitian Yzerman pada tahun 1889. Pada Bungsu ditemukan lempeng emas yang digores dengan gambar tricula. Candi Bungsu maupun candi Tua tidak memiliki stupa pada bagian atas nya, “ Seperti kena potong bang” ujar Zulkifli.
Candi ke tiga adalah candi yang bernama candi Mahligai, candi ini adalah candi yang di anggap paling utuh. Candi ini memiliki bentuk yang sama seperti candi yang ada di India, ataupun Thailand. Bentuk candi ini menyerupai lingga. Menurut Yzerman, candi ini mengalami dua kali pembangunan. Hal ini bisa dilihat pada bagian dasar atau bagian kaki dari candi. Terdapat profil kaki lama sebelum bangunan ini di perbesar. Sayang nya, candi Mahligai penuh dengan coretan dari tangan tangan iseng para pengunjung. Saya tidak mengerti, apakah mereka tidak tahu atau pura pura tidak tahu bahwa candi muara Takus adalah komplek candi yang di sucikan bagi umat Budha.
Candi terakhir adalah candi yang bernama Palangka, candi ini merupakan candi yang terkecil dari ke empat bagian candi. Fungsi dari candi Palangka ini kurang lebih sebagai altar.
Sebelum meninggalkan komplek candi Muara Takus, Zulkifli menceritakan sedikit kepada saya akan Muara Takus. “ Muara Takus ini bang, kemungkinan berasal dari bahasa Tionghoa. Takuse yang arti nya candi tua yang besar. Candi-candi ini dibuat dengan menggunakan tanah liat yang berasal dari Pongkai. Pongkai adalah sebuah desa yang berada kurang lebih 6 km dari candi, sayang nya desa ini tak mungkin abang temukan lagi. Desa ini tenggelam pada saat bendungan PLTA Koto Panjang di resmikan. Ntah lah bang, kadang awak pesimis dengan perkembangan candi ini. Sepertinya dilupakan”. Perkataan Zulkifli ini saya aminkan di dalam hati. (BAW)








