News Darus, kumantan dari Masyarakat Adat Sakai menampilkan tarian Olang Olang yang merupakan ritual pengobatan.

Published on December 13th, 2014 | by Tim Redaksi
Tim Redaksi

0

Pasar Seni Tari Kontemporer VII Pekanbaru

  • Tweet
  • Follow Me on Pinterest

Pekanbaru, Gurindam12.co- Ada yang berbeda tadi malam di Anjungan Seni Idrus Tintin (12/12/2014). Sebuah pasar yang tidak dibuka sejak enam tahun yang lalu kembali dibuka. Eits, jangan mikir macam macam dahulu,pasar malam tersebut adalah Pasar Seni Kontemporer yang diadakan oleh Yayasan Laksemana. Pasar Tari Kontemporer/ Pastakom ini akan berlangsung selama tiga malam berturut turut, yaitu dari tanggal 12 Desember sampai dengan 14 Desember.

Darus, kumantan dari Masyarakat Adat Sakai menampilkan tarian Olang Olang yang merupakan ritual pengobatan.

Para “ penjual” yang hadir dalam pasar ini adalah orang orang yang sudah malang melintang dalam dunia tari kontemporer, salah satunya adalah Eko Supriyanto Ssn MFA yang berasal dari Solo. Para “ penjual” ini akan memuaskan hasrat dari para “pembeli” yang datang pada tiga malam berturut turut itu.

Ririn Raningsih menampilkan karya berjudul Merah,karya ini merupakan kritikan terhadap media yang selalu menampilkan berita negatif ke masyarakat.

Pasar ini dibuka oleh seorang kumantan dari Masyarakat Adat Sakai yang berasal dari desa Mandi Angin, Minas, Kabupaten Siak. Sang Kumantan , Darus, melakukan ritual untuk mengobati penyakit dan menolak bala diatas panggung Idrus Tintin. Dengan menggunakan baju dan celana berwarna coklat seperti warna kayu, serta berikat kepala yang terbuat dari rotan. Darus menampilkan tarian Olang Olang yang memiliki daya magis.

Ririn Raningsih menampilkan karya berjudul Merah,karya ini merupakan kritikan terhadap media yang selalu menampilkan berita negatif ke masyarakat.

Setelah dibuka oleh Kumantan Masyarakat Adat Suku Sakai, Ririn Raningsih menampilkan karya yang berjudul “ Merah”, karya Ririn terpilih dalam salah satu karya yang ditampilkan dalam pasar ini. Merah, karya Ririn menampilkan makna bahwa manusia sudah muak dengan berbagai macam berita negatif yang ditampilkan media saat ini. Dengan menggunakan terusan berwarna merah, Ririn dan teman teman yang terlibat, menari dengan lincah diatas panggung. Puncak adegan “ merah “ para penari yang ada diatas panggung merobek koran yang mereka baca.

Ririn Raningsih menampilkan karya berjudul Merah,karya ini merupakan kritikan terhadap media yang selalu menampilkan berita negatif ke masyarakat.

Selain Ririn Raningsih, pada malam itu juga tampil seniman Ruki Daryudi yang berasal dari Tanjung Pinang Kepulauan Riau. Karya dari seniman berkepala plontos ini berjudul Aku, makna dari aku adalah manusia akan kembali ke Tuhan, walau bagaimanapun kita berbuat dan bertingkah laku di dunia ini. Dengan menggunakan dua buah tali yang terbuat dari kain putih, Ruki Daryadi menampilkan keangkuhan manusia dengan elok diatas panggung.

Ruki Daryudi menampilkan karya berjudul Aku, seniman tari dari Tanjung Pinang ini menterjemahkan ego manusia sebagai aku.

Karya dari Syafmanefi Alamanda juga tidak kalah menarik, Ketua Jurusan STSR Riau ini menjadi koreografer dari sebuah tari yang terinspirasi oleh ritual masyarakat adat Sakai dalam mengisi seorang bomo/dukun. Nama ritual ini adalah basondi, selain sebagai ritual mengisi seorang dukun, basondi merupakan bahasa kiasan dari ironi masyarakat adat Suku Sakai yang sekarang sudah terjepit di tanah mereka sendiri. Hanya tinggal sepetak tanah yang mereka diantara jepitan HPH dan Perkebunan. Dengan menggunakan empat lampu berbahan bakar minyak tanah, para penari ini melakukan ritual yang biasanya dilakukan oleh masyarakat adat Sakai. Adegan pemuncak dari tarian ini, saat empat orang penari yang didandani seperti Sikerei atau penato dari Mentawai, menari diatas serbuk kayu yang dibentuk seperti gunungan kecil pada pojok panggung teater. Ratapan dan erangan dari musik pengiring tari menambah mistis suasana.

.

Ruki Daryudi menampilkan karya berjudul Aku, seniman tari dari Tanjung Pinang ini menterjemahkan ego manusia sebagai aku

Karya penutup pada malam itu adalah karya dari Eko Supriyanto, karya ini berjudul Under, Under memiliki makna kejujuran dan kesederhanaan dalam bergerak dan mengekspolor diri. Ada yang unik dari under, karya ini menggunakan penari bertubuh gempal. Walaupun bertubuh gempal, kedua pasangan ini dengan lincah menari diatas panggung. Mereka berguling guling dan berputar pada panggung yang besar itu. Mereka menampilkan makna eksplorasi dan kejujuran secara bebas. Menurut Tiara Nur Tresna Hade, asisten konseptor dari karya Under. Kedua penari ini latihan selama 3 x 24 jam agar mereka bisa mendapatkan chemistry dalam tampilan. Under adalah karya terakhir yang ditampilkan malam itu.

Basondi yang merupakan karya dari Syafmanefi Alamanda, karya ini merupakan cermin dari kehidupan masyarakat adat Sakai saat ini. bagaimana mereka terjepit.

Untuk memaksimalkan “penjualan” di pasar kontemporer ini, pihak penyelenggara, menggunakan streaming online TV dengan Centro TV, sebuah terobosan yang patut diacungi jempol dalam sebuah pertunjukan seni. Cukup dengan RP 25.000,- sebagai tiket masuk pertunjukan, atau Rp60.000,- untuk tiket terusan selama tiga hari. Saya bisa menikmati sajian yang menarik dari sebuah pasar yang sudah tidak dibuka selama enam tahun. (BAW)

Basondi yang merupakan karya dari Syafmanefi Alamanda, karya ini merupakan cermin dari kehidupan masyarakat adat Sakai saat ini. bagaimana mereka terjepit.

Under, karya dari Eko Supriyanto ini menampilkan ekspolorasi tubuh secara sederhana.

Under, karya dari Eko Supriyanto ini menampilkan ekspolorasi tubuh secara sederhana.

Tags: , , , , , ,


About the Author



Comments are closed.

Back to Top ↑