Pasar Seni Tari Kontemporer VII
Pekanbaru,Gurindam12.co-Pasar Tari Kontemporer merupakan forum pertemuan dalam dunia seni pertunjukan, event ini berlangsung setiap dua tahun sekali di Pekanbaru. Dimulai dari tahun 1997 hingga tahun 2008, Sayangnya pada tahun 2008 pasar seni sempat berhenti hingga diadakan kembali pada tahun 2014. Event ini dilaksanakan oleh ayaysan Seni Laksamana yang bekerjasama dengan Instansi Pemerintah, Swasta, dan Sponsorship.
Pasar Seni Kontemporer ini bertujuan untuk memberdayakan potensi seni dari para seniman tari dan mengembangkan aspek kreatifitas mereka. Sehingga keberadaan para seniman tari kontemporer dapat terus beregenarasi, baik untuk Sumatera maupun Indonesia.
Sampai bertemu pada Pesta Seni Tari Kontemporer VIII dua tahun lagi. Kali ini Gurindam12.co menampilkan series foto dari kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini. (BAW)
Darus, kumantan dari Masyarakat Adat Sakai menampilkan tarian Olang Olang yang merupakan ritual pengobatan.
Ririn Raningsih menampilkan karya berjudul Merah,karya ini merupakan kritikan terhadap media yang selalu menampilkan berita negatif ke masyarakat.
Ruki Daryudi menampilkan karya berjudul Aku, seniman tari dari Tanjung Pinang ini menterjemahkan ego manusia sebagai aku.
The Silent Noise, karya dari Sabri Gusmail ini terinspirasi karya street fotographi dari Babycakes di London, karya ini merefleksikan bagaimana kondisi Medan, tempat seniman berada.
Basondi yang merupakan karya dari Syafmanefi Alamanda, karya ini merupakan cermin dari kehidupan masyarakat adat Sakai saat ini. bagaimana mereka terjepit.
Sapu Jagad, karya dari Agung Kusumo Widagdo ini menampilkan dalam kehidupan harus selalu bersatu seperti sapu.
Ketuk Palu, karya Wan Harun ISmail ini menampilkan bagaimana hukum dan perangkatnya yang sekarang sudah lemah.
Ciek Tigo, karya Kurniadi Ilham ini menampilkan kebiasaan gadih dan bujang Minang Kabau yang bergosip dan ngerumpi, namun tidak dalam arti negatif.
Cross road, karya dari Syafrinaldi SPd.M.Sn. menampilkan bagaimana manusia terlalu disibukkan dengan perdebatan yang tidak pernah usai.
Benalu, karya Alfriandi ini menampilkan bagaimana manusia yang hidupnya menumpang dan merusak kehidupan orang lain.
Sang Hawa, karya dari Ery Mefri ini menampilkan kisah ibu dan anak laki laki nya yang merantau keseberang.





