Belajar Keberagaman di Masjid Jami’ Muntok
Muntok, Gurindam12.co-Sinar matahari yang masuk dari jendela memberikan efek garis garis berwarna kuning kemerahan di atas sajadah berwarna hijau di depan saya. Disebelah kanan, seorang pengurus mesjid terlihat sedang menarik kabel dari mesin penyedot debu, kemudian, suara mesin penyedot debu membelah keriuhan suara anak -anak yang sedang bermain di halaman samping mesjid. Sore itu, mesjid ini ramai.
bagian depan dari mesjid Jami’. Kota Muntok, Bangka Barat. Mesjid yang dibangun pada tahun 1883 menjadi salah satu cagar budaya di kota Muntok.
Mesjid Jami’ Muntok, Bangka Barat adalah tujuan saya. Mesjid yang berdiri sejak tahun 1883 merupakan salah satu bukti perkembangan agama islam di kota yang di zaman Belanda menjadi kota industri timah yang maju. Selain sebagai simbol perkembangan agama islam, mesjid ini menjadi saksi pembauran antara tionghoa dan melayu di Bangka sejak abad ke 18.
Bagian dalam masjid Jami’ Muntok, kayu yang berwarna hitam merupakan penyangga dari atap masjid yang merupakan sumbangan dari Mayor Tionghoa, Tjoeng A Thiam
Menurut ceritanya, mesjid Jami’ dibangun pada masa pemerintahan H.Abang Muhammad Ali wakil Kesultanan Palembang yang bergelar Tumenggung Karta Negara II. Pembangunan mesjid ini dibantu oleh tokoh masyarakat Muntok, H. Nuh dan H. Yakub. Masjid Jami’ memiliki ukuran 21 meter x 23 meter. Dengan tinggi masjid 6 meter, diukur dari lantai masjid yang posisinya lebih tinggi dari permukaan tanah 160 sentimeter.
Masjid Jami’ Muntok memiliki lima pintu, yang mengartikan lima rukun Islam. Ketiga pintu utama masjid setinggi 2,7 meter memiliki lubang angin berbentuk kaligrafi ayat-ayat al-Qur’an. Dengan ukuran pintu yang besar, kondisi di dalam mesjid menjadi lebih sejuk karena sirkulasi angin yang keluar masuk lancar. Selain itu, lantai marmar berwarna putih keabuan yang berukuran besar menambah kesan sejuk dari masjid ini. Di depan pintu masuk masjid, terdapat enam pilar. Karena dibangun pada tahun 1883, ada sentuhan aliran neo klasik pada mesjid ini, Aliran neo klasik adalah aliran arsitektur yang dibawa oleh Gubernur Hindia Belanda yang ke 36, Maarschalk en Gouverneur Generaal Herman William Daendels yang memerintah dari tahun 1808 sampai dengan 1811. Gaya aliran ini bisa dilihat pada enam pilar bergaya ionic yang berada di bagian depan mesjid. Enam pilar ini merupakan penggambaran dari enam rukun iman.
Ada campuran arsitektur Belanda di mesjid ini, terdapat pilar pilar yang bergaya iona di mesjid ini.
Di saat pembangunan masjid, masyarakat melayu dan para pekerja timah yang sebagian besar adalah warga Tionghoa bergotong royong membangun. Selain dibantu para pekerja timah yang saat itu dikenal dengan sebutan orang parit. Seorang major Tionghoa juga ikut membantu dalam pembangunan mesjid ini. Mayor yang bernama Tjoeng A Thiam merupakan perwakilan dari Belanda yang mengatur warga Tionghoa, para pekerja timah. Mayor Tjoeng A Thiam yang memerintah di pulau Bangka pada tahun 1863 sampai 1896 memberikan bantuan dalam bentuk sumbangan empat kayu hitam/ kayu ulin yang berfungsi sebagai tiang utama penyangga atap masjid. Bantuan para pekerja timah dan Mayor Tionghoa dalam membangun mesjid memperliatkan wujud keberagaman yang sudah dari dahulu ada di kota yang berjuluk Sejiran Setason ini.
Pada bagian atap masjid, ada insipirasi dari bentuk limasan masjid- masjid yang ada di pulau Jawa. Dari halaman masjid, saya melangkahkan kaki ke bangunan yang berada di sebelah kiri masjid. Sebuah jalan beraspal menjadi pemisah antara dua bangunan ini. Bangunan ini bernama Klenteng Kong Fuk Miao. Klenteng ini dibangun sebelum mesjid. Kira-kira 83 taun sebelum mesjid didirikan. Salah seorang pengunjung mesjid dengan bangga menjelaskan kepada saya “ Inilah contoh dari keberagaman di Pulau Bangka pak, klenteng dan masjid bisa berdampingan”. Hari itu, halaman Klenteng Kong Fuk Miao, sepi, tidak ada kegiatan sama sekali.
Jalan yang menjadi pemisah antara Klenteng dan Masjid. Dua bangunan ini menjadi contoh keberagaman antara Melayu dan Tionghoa yang sudah ada dari zaman dahulu di kota Muntok. Provinsi Bangka Belitung.
Karena sudah berumur lebih dari lima puluh tahun,menurut Undang Undang no 11, tahun 201o mengenai Cagar Budaya. Mesjid Jami dan Klenteng Kong Fuk Miao menjadi benda cagar budaya di kota Muntok. Mesjid Jami Kota Muntok dan Klenteng Kong Fuk Miao, salah satu wujud keberagaman di Indonesia. ( BAW).



