Cerita dari Masjid Pulau Penyengat
Tanjung Pinang,gurindam12.co-Suara mesin kapal seolah olah menjadi musik pengiring perjalanan. Lima belas penumpang mengisi penuh ruang di kapal yang beralaskan kayu. Beberapa penumpang kapal, ada yang membawa kantong hitam berisikan barang belanja dari pasar. Ada yang membawa tas besar menggelembung, sepertinya berisikan pakaian, namun ada juga hanya membawa badan saja. “Jadi nampaknya beraye, kak” ujar salah seorang penumpang perempuan kepada penumpang di sebelah saya. “ Jadi, ketupat dah siap dah” jawabnya. Bau hari raya Aidul Fitri sudah tercium.
Dibutuhkan lima belas menit berlayar dari pelabuhan menuju pulau tujuan. Untungnya, siang itu laut sedang bersahabat. Dari pelabuhan, bangunan tujuan saya terlihat mencolok dengan cat kuning yang menyelimuti tembok-tembok bangunan. Tulisan dari besi pada pintu masuk,yang bertuliskan aksara arab melayu terlihat mencolok. Tulisan itu jika dilafalkan “ Masjid Raya Sultan Riau Penyengat”.
Masjid Sultan Riau Penyegat merupakan peninggalan kerajaan Riau Lingga. Mesjid ini dibangun pada zaman pemerintahan Sultan Mahmud Syah III di tahun 1803. Pada masa pemerintahan Yang Dipertuan Muda VII, Sultan Abdurrahman, pada tahun 1832, masjid ini direnovasi dan berdiri dengan kokoh hingga hari ini. Pada awal berdiri, masjid ini berupa bangunan kayu berlantai dua dengan menara setinggi enam meter sebagai tempat muazain mengumandangkan azan. Di zaman pemerintahan Sultan Abuddurahman, pemugaran masjid dilakukan. Tujuan pemugaran masjid sebagai wujud rasa sukur atas kemakmuran masyarakat pulau Penyengat. Sultan Abduurahman mengundang masyarakat kerajaan Lingga untuk terlibat dalam pemugaran masjid. Arsitek pemugaran didatangkan dari Tumasik/Singapura.
Pada saat pemugaran masjid, bahan makanan yang diberikan oleh masyarakat melimpah ruah terutama telur, karena bosan dengan menu yang itu-itu saja. Para pekerja bangunan memilih untuk memakan kuning telur, sedangkan putih telur yang begitu banyak digunakan sebagai bahan perekat bangunan bersama dengan pasir dan kapur. Setelah renovasi, masjid seluas 29,3 meter x 19,5 meter terlihat megah dengan kubah-kubah yang berjumlah 13 buah berbentuk bawang. Jumlah keseluruhan tiang dan kubah di masjid ini 17 buah , tiang dan kubah ini menggambarkan jumlah rakaat sholat lima waktu.
bagian belakang dari Mesjid Raya Sultan Riau Penyengat, kubah dan menara dari masjid ini berjumlah 17 yang menggambarkan jumlah rakaat Sholat.
Dari pintu masuk, saya menelusuri lantai batu bata yang membagi halaman depan mesjid menjadi dua. Rumah sotoh/ gedung pertemuan yang berada di kiri kanan saya dalam keadaan sepi. Masjid penyengat sedang bersiap menyambut hari raya Aidul Fitri esok. Dari bagian luar mesjid, saya masuk kedalam masjid. Pada bagian dalam terdapat kitab-kitab berjumlah tiga ratus buah yang tersimpan pada lemari di kiri kanan bagian dalam masjid. Kitab-kitab ini merupakan koleksi dari Raja Muhammad Yusuf al Ahmadi, beliau merupakan raja terakhir dari kerajaan Daik Lingga yang juga merupakan pendiri percetakan buku di Pulau Penyengat.
Selain koleksi buku-buku milik Raja, di mesjid ini juga terdapat dua mushaf Alquran yang ditulis dengan tangan. Salah satu mushaf ini karya dari Abdurrahman Stambul, seorang penduduk Lingga yang dikirim ke Turki untuk belajar agama Islam pada tahun 1867 oleh Raja. Selain koleksi kitab kitab lama, di bagian dalam mesjid juga terdapat mimbar lama yang berasal dari Jepara. Mimbar ini dibuat pada tahun 1832.
Suara azan Zuhur berkumandang dari pengeras suara mesjid, segarnya air dari pulau yang menjadi mas kawin Sultan Mahmud Syah III dan Engku Putri Hamidah membasuh muka saya. Masjid Sultan Riau Penyengat, sebuah bait cerita kejayaan Melayu Lingga yang tersisa. ( BAW).





