Mudik
Terempak,Gurindam12.co- “Pooom,poom”, suara sirine kapal memecah senja. Raungan mesin terdengar hingga dek lima. Pelan-pelan, kapal mulai bergerak meninggalkan pelabuhan Kijang, Tanjung Pinang, Kepulauan Riau. Suara takbir yang berasal dari perkampungan-perkampungan di tepi tanjung, samar samar tertangkap telinga bersaing dengan dentuman suara petasan. Daratan malam itu meriah.
Suasana yang berbanding terbalik terjadi di dalam kapal. Dek empat dan sebagian dek lima diisi oleh para penumpang. Raut muka mereta terlihat bersemangat, keesokan hari, mereka akan tiba dikampung halaman masing-masing dan bersilaturahmi dengan sanak keluarga yang ada di kampung halaman.
“Biasanya tidak pernah kapal berangkat di malam takbiran, bang” ujar salah satu penumpang tujuan Natuna, Kepulauan Riau. Dua kapal yang melayani Tanjung Pinang- Natuna, KM Bukit Raya dan KM Lawit, ditarik oleh pemerintah untuk melayani pemudik tujuan Sulawesi dan Kalimantan dari pulau Jawa. Namun, karena desakan dari masyarakat pulau-pulau terluar kepulauan Riau yang dikenal dengan gugusan pulau tujuh. Kapal pelni, KM Kelud yang biasan melayani rute Indonesia timur, melayani Indonesia barat. Pada hari terakhir puasa, KM Kelud berangkat dengan tujuan akhir,Pontianak, Kalimantan Barat. KM Kelud, berangkat dari Tanjung Pinang, melewati gugusan pulau Tujuh yakni Letung, Terempak, dan Natuna.
Dua hari waktu yang dibutuhkan dari Tanjung Pinang ke Pontianak, 24 jam tujuan Natuna, 18 jam tujuan Terempa, dan 12 jam tujuan Letung. Lama. Namun bagaimana lagi, tiada pilihan transpotasi yang murah dan mampu melewati gelombang di Laut Cina Selatan menyebabkan kapal laut masih menjadi pilihan masyarakat. “Allahuakbar, allahuakbar” suara takbir merayakan satu syawal dari pengeras suara kapal mengiringi perjalanan KM Kelud membelah laut Cina Selatan hingga ke kampung halaman. ( BAW).









